Belanda Temukan Barang-Barang Kapal Onrust, Perahu Tentara Terbalik di Montallat 15 Senapan Hilang dan Ilmu Kebal

Buku "DE BANDJERMASINSCHE KRIJG VAN 1859-1863" atau "Perang Banjarmasin 1859 - 1863" ditulis oleh W. A. Van Rees pada 1865, seorang Komandan, Perwira dan Ksatria Belanda yang pernah bertugas di Angkatan Darat Hindia Belanda.

Buku ini cukup banyak menceritakan tentang perang di Sungai Barito wilayah Kabupaten Barito Utara yang disebut "Teweh." Barang-barang dari kapal Onrust yang kemudian ditemukan tentara Belanda setelah ekspedisi pembalasan atas peristiwa Onrust disebutkan. Begitu juga beberapa orang yang dianggap berperan dalam peristiwa tersebut.

Berikut kutipan-kutipan dari berbagai halaman dalam buku ini yang diterjemahkan google dan belum diketahui tingkat akurasinya untuk bahasa ini, sekadar upaya kita mencari informasi, kurang lebihnya berikut ini :

"Karena sebagian dari pelayaran itu berkaitan dengan pembalasan dendam terhadap Onrust, komandan sumber daya maritim juga diizinkan untuk bergabung dalam pelayaran tersebut"

"la masih berhutang hukuman atas bantuan yang diberikannya kepada para pengkhianat Soerapati dan Antassari dalam melakukan serangan berbahaya terhadap kapal itu"

"Karena seluruh penduduk di sepanjang sungai itu telah melarikan diri serentak, dan karena para Kepala Suku telah meninggalkan benteng-benteng mereka yang tak terhitung jumlahnya tanpa pertahanan, memang menjadi tidak mungkin untuk membalas darah yang ditumpahkan pada Onrust dengan darah para pembunuh; namun hukumannya sangat berat. Setiap kampung, desa, atau permukiman di sepanjang Teweh yang berisi benda-benda Onrust yang disimpan sebagai jimat menghilang dari tepian sungai dan ditemukan hangus terbakar oleh penduduk yang khianat. Pengumuman dipasang di tempat-tempat yang paling mencolok di sepanjang sungai, mengancam Teweh dengan kunjungan seperti itu setiap tahun jika salah satu Kepala Suku berpihak pada putra-putra Antasari dan penduduk tidak menyerahkan diri secepat mungkin, dan lebih jauh lagi menyatakan setiap Kepala Suku yang telah berpartisipasi dalam pengkhianatan dicopot dari jabatannya"

"Kiay Ranga Niti diinstruksikan untuk menasihati para Kepala Suku Lahey untuk meminta maaf, kecuali mereka ingin mengalami nasib yang sama seperti Teweh"

"Tommonggong Mas Anom, salah satu pahlawan yang memainkan peran utama dalam pembantaian di Onrust, tinggal di sebuah kotta berbenteng yang disebut Meak"

Penemuan Barang Kapal Onrust.

"Beberapa orang yang tewas dan terluka terlihat menyeret diri selama penyerangan; Namun, lima mayat lagi ditemukan di bagian dalam, serta sejumlah senjata api dan senjata tajam, persediaan bubuk mesiu yang cukup banyak, padi dan garam, sejumlah proyektil, dan sebuah tempat tidur gantung yang berasal dari Onrust"

"Sejumlah benda yang berasal dari Onrust ditemukan di sana, dan tempat itu kemudian dibakar hingga hangus"

Tentu saja buku ini adalah catatan sejarah versi Hindia Belanda. Bagaimana mereka menggambarkan pejuang lokal, pola serangan, taktik grilya, senjata perang yang digunakan pejuang, perilaku warga lokal dengan Antasari yang disebut ditakuti sepanjang hidupnya dan menyebut nama-nama desa di Barito Utara seperti Benangin serta keadaan benteng dan lain-lain.

"Anemaet kemudian menandai Sungai Benangin, mengikutinya selama beberapa waktu hingga ke kampong Kwalla nue, dan bermalam di sana. Setelah berjalan beberapa jam, pasukan (resimen 22 cm) tiba di Pong Pangin, yang diperkuat dengan cara Dayak oleh dua pagar kayu, membentuk apa yang disebut kotta. Di dalamnya terdapat enam rumah besar, dan di luar empat rumah besar"

"Di sepanjang Benangin terdapat tiga benteng lagi, di Pangin, di Takko, dan di Bemoenan (yang terakhir di perbatasan Koetei), yang sebelumnya berfungsi untuk melawan invasi Dayak-Pari. Mangkoe Saharie, putra dari mendiang tomonggong Arie Pati, yang juga ikut serta dalam pembantaian Onrust"

"akan kehidupan gerilya yang penuh petualangan dan lebih memilih hidup dengan menjarah daripada mencari nafkah melalui kerja manual, akrab dengan semua sumber daya yang ditawarkan oleh medan yang sulit dijangkau, kelompok-kelompok ini adalah yang paling sulit ditaklukkan"

Tentang amalan yang disebut ilmu kebal dilakoni para pejuang, khususnya Kalimantan Selatan, juga tersebut dalam buku ini.

"Laporan-laporan yang mengkhawatirkan kini sampai ke Amoenthay dari berbagai penjuru. Pertama, dikatakan bahwa sekelompok orang sekali lagi melakukan beratip beamaäl (doa yang sungguh-sungguh untuk menjadi kebal), dan bahwa beberapa Kepala Suku Antasari sedang mengumpulkan pasukan yang kuat di dekat Tandjong dan Kaloewa; kemudian Van Langen dikirim ke sana dengan 60 bayonet dan 1 howitzer, dengan perintah untuk melindungi benteng dan mencari musuh jika ia tidak menyerang, atau mengejarnya selama beberapa hari jika ia mundur"

Salah satu yang menarik pula adalah tentang perwira tentara Belanda bernama Letnan Vink bersama 3 orang anak buahnya tenggelam di Montalat akibat perahu yang mereka tumpangi terbalik, sebanyak 15 pucuk senjata hilang.

"Di Montallat, sebuah perahu terbalik, akibatnya Letnan Vink tenggelam bersama tiga orang lainnya dan sekitar lima belas senapan hilang"