Ilustrasi Lift
KALIMANTAN TENGAH, BARITO UTARA, MUARA TEWEH - Alokasi dana untuk perbaikan dan peningkatan performa Lift di rumah jabatan Bupati Kabupaten Barito Utara sempat mendapatkan komentar dari kritikus lokal yang mengkaitkannya dengan efesiensi anggaran saat ini.
Upgrade lift dinilai bentuk pengelolaan keuangan yang tak efesien. Akan lebih baik apabila anggarannya dipergunakan untuk kebutuhan lain yang lebih perlu.
Disisi lain, beberapa kalangan menilai justru sebaliknya, pengantian lift perlu dilakukan karena sudah rusak yang dapat mengurangi kewibawaan daerah dimata tamu-tamu penting.
Media ini sudah mendapati setidaknya 2 tokoh yang mengaku pernah menggunakan lift di rumah jabatan Bupati dan terjebak ketika lift mengalami gangguan. Seorang tokoh agama atau kiayi dan satu lagi tokoh masyarakat/aktivis yang minta identitasnya tidak perlu dipublish.
"Saya pernah terjebak," ujarnya kepada media ini.
Sumber yang lain lagi mengatakan, sebenarnya mungkin pemimpin daerah saat ini tak begitu memandang penting sekali akan adanya lift. Beliau lebih suka naik tangga seperti halnya bersepeda untuk kesehatan. Lift yang ada sekarang dibangun oleh Kepala Daerah sebelumnya.
Hal senada juga disampaikan figur lainnya semisal Mahyudin Amang Boy. Selain menjelaskan tentang politik, ia menerangkan lift di rumah jabatan telah ada sebelum Kepala Daerah saat ini 7/5/2026).
"Perlu ditegaskan bahwa keberadaan lift di Rujab tersebut bukanlah fasilitas baru yang dibuat di masa kepemimpinan saat ini. Lift tersebut sudah ada sejak sebelumnya, namun kini dalam kondisi rusak dan tidak dapat digunakan," katanya saat dihubungi media ini.
Oleh karena itu, lanjut Amang Boy, langkah yang diambil oleh Bagian Umum Pemerintah Daerah adalah penggantian terhadap fasilitas lama yang sudah tidak layak pakai, bukan pembangunan fasilitas baru yang bersifat mewah atau berlebihan.
"Banyak tamu yang berusia lanjut atau memiliki keterbatasan fisik, sehingga membutuhkan akses yang lebih ramah dan manusiawi. Dari sudut pandang pelayanan publik, keberadaan lift juga merupakan bagian dari komitmen terhadap aksesibilitas bagi penyandang disabilitas," kata Mang Boy.
Kritik tentu sah dan merupakan bagian dari demokrasi, namun harus tetap berbasis data dan kepentingan publik, bukan sekadar membangun persepsi negatif, tutup Amang Boy, Pagi.
