Pertanian Keluarga Vs Pertanian Kolektif Pemerintah, Mana Lebih Sip?

KALIMANTAN TENGAH, BARITO UTARA, MUARA TEWEH - Program Ketahanan Pangan Nasional memantik ingatan, program ini pernah booming dan gencar digalakan dibeberapa daerah di Indonesia pada waktu yang lalu.

Dalam Pidato pertamanya setelah dilantik, Presiden Prabowo Subianto menargetkan dalam tempo sesingkat-singkatnya Indonesia harus swasembada pangan dan mungkin menjadi lumbung pangan dunia.

Indonesia diharapkan akan menjadi produsen pangan dan tidak lagi menjadi konsumen dari produk pangan luar negeri.

Institusi militer dan penegak hukum turut dilibatkan dalam menyukseskan dan menyosialisasikan program tersebut, serta bekerjasama dengan Kementrian pertanian dalam melakukan kegiatannya.

Dalam melakukan perannya untuk misi besar swasembada pangan ini, tentara berperan pada cetak sawah, sedangkan Polisi berperan pada penanaman jagung.

Launching program ini dilakukan dalam skala nasional. Seremonial pembukaan dilakukan secara virtual yang terhubung langsung dengan daerah-daerah. 

Salah satu momen saat itu, Kementrian Pertanian RI meluncurkan gerakan Penanaman Jagung Serentak 1 Juta hektare. Titik pusat acara peluncuran untuk Barito Utara di Desa Trahean, Kecamatan Teweh Selatan, Barito Utara, (21/8/2025).

Perkembangan program ini selanjutnya, baik cetak sawah maupun penanaman jagung, kurang begitu terdengar lagi, sehingga media ini mencoba menanyakan perkembangannya saat ini kepada Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian, Dinas Pertanian Barito Utara, Jumran, Jum'at (1/5/2026).

"Untuk cetak sawah perkembangannya lumayan bagus terutama di Desa Baliti saat ini merencanakan penanaman ke 2 atau IP (indeks pertanaman) ke 2 di lokasi cetak sawah," pesannya singkat kepada media ini.

Pada artikel yang terbit tanggal 23 April 2021 di laman Food and Agriculture Organization of the United Nations dikatakan, Petani kecil di seluruh dunia menghasilkan sekitar sepertiga dari pangan dunia.

Marco Sanchez, Wakil Direktur Divisi Ekonomi Pangan Pertanian FAO dan salah satu penulis artikel bersama Sarah Lowder dan Raffaele Bertini mengatakan, "Sebagian besar pertanian keluarga berukuran kecil, tetapi beberapa di antaranya lebih besar dan bahkan sangat besar," kata dia.

Pada tahun 2014, sebuah laporan unggulan dari FAO menghitung bahwa sembilan dari 10 dari 570 juta pertanian di dunia adalah pertanian keluarga dan menghasilkan sekitar 80 persen makanan dunia.

Dari data di atas, pertanian kolektif yang diatur oleh Pemerintah ternyata bukan menjadi penyumbang terbesar pangan dunia. Justru pertanian keluarga sebagai penyumbang terbesar.

Para pembuat kebijakan dapat mencanangkan pertanian keluarga sehingga meningkatkan produktivitas petani kecil, dan memperbaiki mata pencaharian pedesaan.