Pembangunan di Desa Muara Pari Sempat Diduga Mangkrak, Simak Cek dan Re-Check Lewat Jalan Ekstrem Ini

KALIMANTAN TENGAH, BARITO UTARA, MUARA TEWEH - Kondisi pembangunan Desa Muara Pari, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, yang sebelumnya sempat menjadi sorotan terkait dugaan pembangunan yang tak berjalan dengan baik dan tak transparan dari sumber anonim, mendapat cek dan re-check langsung dari media ini, Senin (16/3/2026).

Dengan menempuh perjalanan yang dikategorikan berat karena faktor cuaca yang sebelumnya turun hujan, untuk menuju desa yang tergolong desa terisolir ini dapat dikatakan sangat menantang.

Perjalanan harus melalui lumpur tanah liat basah yang luar biasa, kubangan, tanjakan dan turunan yang beresiko menjadikan kendaraan atau mobil dapat tergelincir maupun terguling, hingga membuat perjalanan menuju desa dengan jumlah warga sekitar 700 jiwa ini tergolong sangat ekstrem.

Beberapa warga terpaksa harus berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan akibat motornya yang terjebak lumpur, sebagian lagi memilih berteduh dipinggir jalan dengan wajah yang tampak sangat kelelahan sementara sepeda motornya yang sudah penuh dengan tanah liat dibiarkan begitu saja di jalan yang penuh lumpur.

"Ini sih jalan off-road," ujar salah satu rekan media.

Wartawan media ini dapat berhasil melalui jalan "mematikan" tersebut hingga berhasil ke desa Muara Pari bisa dianggap berkat menumpang di mobil Toyota Hilux double gardan 4x4 milik desa, mobil yang sebelumnya dikritik karena disebut-sebut lebih mahal daripada mobil Kepala Dinas di Kota.

"Kalau mobil Avanza atau Pick Up dijamin pasti tidak mampu," celoteh seorang jurnalis yang turut serta dalam perjalanan berat ini.

Medan ekstrem ini berjarak tempuh lebih kurang 11 Km, dari Km 39 jalan Hauling PT. Tamtama menuju Desa Muara Pari, dan dari pantauan media ini telah ada upaya pemerintah desa mengurangi keparahan jalannya dengan cara menimbuni beberapa titik memakai bebatuan. Namun tampaknya upaya ini kurang efektif karena akan ditutupi tanah kembali setelah beberapa lama.

Pemerintah Desa juga menyiagakan eksavator ukuran kecil milik pemerintah desa yang standby dititik tertentu agar bisa dipergunakan sewaktu-waktu apabila benar-benar sangat dibutuhkan warga yang melalui jalan tersebut.

Pada jalur tersebut beberapa jembatan baru juga telah dibangun oleh pemerintah desa Muara Pari, tepatnya 4 buah jembatan yang diharapkan bisa sedikit membantu kelancaran akses warga desa.

Masih dalam perjalanan menuju Desa Muara Pari, Warna Kalimantan, mewawancarai Kepala Kerja yang bertugas pada pembangunan jembatan yang sebelumnya disebut-sebut mangkrak. Supriansyah, warga desa setempat menuturkan saat ini pihaknya bekerja dengan dana talangan sendiri karena adanya isu tadi, tujuannya hanya supaya masyarakat tenang.

"Padahal dana pembangunan jembatan ini memakai anggaran Tahun 2026 yang saat ini memang belum ada," jelas dia.

Pembangunan jembatan menurutnya juga memerlukan proses waktu sampai umur beton yang benar-benar sudah kuat untuk dilanjutkan ke pengerjaan tahap berikutnya, dan hal ini berdasarkan standart yang telah ditentukan. Maka waktu menunggu tersebut yang sering disangka mangkrak, terangnya.

"Saya mengimbau agar masyarakat yang menerima informasi dari pihak yang tak jelas untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada kami di lapangan," ujar pemimpin pengerjaan pembangunan jembatan itu.

Jembatan yang akan dibangun tersebut sepanjang 165 meter dan lebar 4 meter, dengan dana pembangunan sebesar 1,4 Miliar. Tentang mengapa tidak dilakukan rehab atau perbaikan saja, dijawab oleh para pekerja, kondisi jembatan yang secara kasat mata memang sudah dalam kondisi mengkhawatirkan.

Kepala Desa Muara Pari yang juga mantan seorang penghulu di desanya, Mukti Ali, menekankan agar proyek ini harus sudah selesai sebelum masa baktinya sebagai Kades berakhir. Ia juga memastikan beberapa Minggu setelah hari raya Idul Fitri pengerjaan jembatan ini akan full kembali dikerjakan.

"Setelah hari raya kita mulai bekerja lagi," ujar Kades yang hobi berpetualang dan berburu di hutan Kalimantan ini.

Dari pantauan Warna Kalimantan di lapangan, saat ini material dan semen sudah banyak didatangkan ke desanya. Semen menurut informasi warga desa datang dari Muara Teweh, sedangkan pasir didatangkan dari Lahei lewat sungai Pari menggunakan perahu Tiung.

Media juga melakukan pengamatan pada proses pembangunan Balai Pertemuan Desa, tampak terlihat tanda-tanda adanya aktivitas pekerjaan pembangunan yang berjalan normal.

Sedangkan pertanyaan mengapa tidak ada baliho laporan anggaran Dana Desa di kantor Desanya, dijawab oleh seorang warga desa Pari bahwa tidak adanya baliho tidak serta merta menunjukan ada penyalahgunaan anggaran.

"Di kantor Pemda kita atau di kantor dinas-dinas kan juga tidak ada baliho laporan penggunaan anggarannya, kan tidak kita sebut ada penyalahgunaan anggaran disitu," terang warga desa terpencil ini singkat saat menjelang acara berbuka puasa yang diselenggarakan gratis oleh keluarga Kepala Desa (Kades) Mukti Ali selama bulan Ramadhan.

Warga Barito Utara ini juga mempertanyakan mengapa pemerintah desa ditekankan untuk memajang baliho besar laporan penggunaan anggarannya sebagai bentuk transparansi, tetapi Pemda atau Dinas-Dinas tidak ada, tanya dia.

Kembali ke Muara Teweh, mobil dinas desa yang ditumpangi wartawan media ini selain harus kembali melalui jalan yang super berat, juga harus mengangkut sepeda motor warga yang tidak dapat melewati jalan "maut" tadi. Hal ini diterangkan sebagai bentuk dari fungsi lainnya dari mobil pemerintahan desa Muara Pari.